SELAMAT DATANG KE WEB BLOG MELAYUCYBER

Click to : PONDOK HABIB :





   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

  • MELAYUCYBER BLOG2

    LAMAN MENARIK :

  • PONDOK HABIB
  • AL-HAWI
  • ASYRAAF
  • BAHRUS SHOFA
  • USTAZ ZAMIHAN
  • USTAZ AL SUBKI
  • AL HANIEF
  • JOM FAHAM
  • AL ASHAIRAH
  • KAJIAN ISLAM
  • PROTAJDID
  • BICARA SUFI
  • MALAKIAN
  • AL FANSHURI
  • MUKHLIS
  • PONDOK TAMPIN
  • AL BAZRAH
  • ROUDHAH
  • ABULEHYAH
  • MAJLIS ILMU
  • MAJLIS RASULULLAH
  • AL MUKMINUN
  • KISAH WALI
  • UMMUL BARAKAH
  • ILUVISLAM
  • JIHAD WAHABI


  • SUMBANGAN DERMA UNTUK ANAK YATIM

    Bagi yang ingin menderma dan memberi sumbangan kepada Rumah Kebajikan bagi anak yatim, bantuan pendidikan, bantuan fakir miskin, bantuan saudara baru, kaunseling, motivasi dan kem bina insan yang diuruskan oleh Pengurusan Dar Ar Rahman boleh membuat bayaran ke Maybank Akaun : 56-454-8121-325. Untuk keterangan lanjut hubungi saudara Nur Muhammad : HP: 017-2602690. Semoga sumbangan anda diberkati oleh Allah S.W.T.

    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed



    Friday, November 06, 2009
    Wahabi adalah agen Yahudi dan Nasrani dalam kejatuhan Empayah Uthmaniyah

    Wahabi adalah agen Yahudi dan Nasrani dalam kejatuhan Empayah Uthmaniyah

    Menurut Abdul Qadim Zallum, gerakan Wahabi telah dimanfaatkan oleh Muhammad bin Saud (w. 1765) untuk memukul Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Namun tindakan yang sudah dapat disebut pemberontakan ini, menurut Zallum terjadi tanpa disadari oleh para penganut gerakan Wahabi, meski disadari sepenuhnya oleh Muhammad bin Saud. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).

    Tulisan ini hendak mengkaji kitab Kaifa Hudimat Al-Khilafah (hal. 13-20) yang mengungkapkan upaya Muhammad bin Saud memanfaatkan gerakan Wahabi untuk mengguncangkan Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Kajian akan dilengkapi dengan berbagai referensi lain yang relevan.

    Persekongkolan Negara-Negara Eropah

    Gerakan Wahabi dan penguasa Saudi muncul pertama kali pada abad ke-18 di tengah kondisi yang kurang menguntungkan bagi Khilafah Utsmaniyah, baik internal maupun eksternal.

    Secara internal, kelemahan Khilafah mulai menggejala pada abad ke-18 ini, disebabkan oleh buruknya penerapan hukum Islam, adanya paham-paham asing –seperti nasionalisme dan demokrasi– yang mengaburkan ajaran Islam dalam benak umat Islam, dan lemahnya pemahaman Islam yang ditandai dengan vakumnya ijtihad. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hal. 177).

    Secara eksternal, negara-negara Eropah seperti Inggris, Perancis, dan Italia telah dan sedang berkonspirasi untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah. Negara-negara Eropa itu berkali-kali berkumpul dan bersidang membahas apa yang disebutnya Masalah Timur (al-mas’alah al-syarqiyyah, eastern question) dengan tujuan untuk membagi-bagi wilayah Khilafah. Meski tidak berhasil mencapai kata sepakat dalam pembagian ini, namun mereka sepakat bulat dalam satu hal, yaitu Khilafah harus dihancurkan. (El-Ibrahimy,Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah, hal. 27).

    Agar Khilafah hancur, negara-negara Eropa itu melakukan serangan politik (al-ghazwuz siyasi) dengan menggerogoti wilayah-wilayah Khilafah. Selain Rusia yang yang telah mencaplok wilayah Turkistan tahun 1884 dari wilayah Khilafah, Perancis sebelumnya telah mencaplok Syam (Ghaza, Ramalah, dan Yafa) tahun 1799. Perancis juga telah merampas Al-Jazair tahun 1830, Tunisia tahun 1881, dan Marakesh tahun 1912. Italia tak ketinggalan menduduki Tripoli (Libya) tahun 1911. Sementara Inggris menguasai Mesir tahun 1882 dan Sudan tahun 1898. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, hal. 206-207).

    Demikianlah serangan militer telah dilancarkan Eropa untuk menghancurkan Khilafah dengan cara melakukan disintegrasi wilayah-wilayahnya satu demi satu. (Jamal Abdul Hadi Muhammad, Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz II/9).

    Selain upaya langsung dari luar, berbagai cara juga ditempuh oleh Eropa untuk menghancurkan Khilafah dari dalam. Menurut Zallum ada empat cara yang digunakan, yaitu : pertama, menghembuskan paham nasionalisme. Kedua, mendorong gerakan separatisme. Ketiga, memprovokasi umat untuk memberontak terhadap Khilafah. Keempat, memberi dukungan senjata dan dana untuk melawan Khilafah. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13; Abdur Rauf Sinnu, An-Naz’at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 91).

    Di sinilah Inggris menggunakan cara-cara tersebut untuk memukul Khilafah dari dalam, melalui antek-anteknya Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud (w. 1830) yang memanfaatkan gerakan Wahabi. Upaya ini mendapat dukungan dana dan senjata dari Inggris. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).

    Hubungan konspiratif segitiga antara Inggris, Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, dan gerakan Wahabi ini diuraikan secara detail oleh Abul As’ad dalam kitabnya As-Su’udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun (hal. 15). Menurutnya, Abdul Aziz membangun ambisi politiknya atas dasar dua basis. Pertama, adanya dukungan internasional dari Inggris. Kedua, adanya dukungan milisi bersenjata dari gerakan Wahabi.

    Dukungan Inggris terhadap Abdul Aziz ini terbukti misalnya dengan adanya berbagai perjanjian rahasia antara Inggris dan Abdul Aziz tahun 1904. Abul As’ad mengatakan,”Hubungan ini [Inggris dan Abdul Aziz] semakin kuat dengan berbagai perjanjian rahasia antara dua pihak tahun 1904, di mana Abdul Aziz menerima dukungan materi, politik, dan militer dari Inggris yang membantunya untuk meluaskan pengaruhnya di Nejed serta menguasai kota Ihsa` dan Qathif tahun 1913.” (Abu Al-As’ad, As-Su’udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun, hal. 16).

    Adapun dukungan milisi dari gerakan Wahabi kepada Abdul Aziz, telah terbentuk sebelumnya sejak tahun 1744 ketika terjadi kontrak politik antara ayahnya (Muhammad bin Saud) dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Kontrak politik ini berlangsung di kota Dir’iyyah, sehingga sering disebut “Baiah Dir’iyyah” (Tarikh Al-Fakhiri, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, hal. 25).

    Dengan kontrak politik itu, Muhammad bin Saud mendeklarasikan dukungannya terhadap paham gerakan Wahabi dan menerapkannya dalam wilayah kekuasaannya. Sedang gerakan Wahhabi yang sebelumnya hanya gerakan dakwah kelompok, berubah menjadi gerakan dakwah kekuasaan. Implikasinya, paham Wahabi yang semula hanya disebarkan lewat dakwah murni, kemudian disebarkan dengan paksa menggunakan kekuatan pedang kepada penganut mazhab lain, antara lain penganut mazhab Syafi’i. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 16).

    Pemberontakan Penguasa Saudi dan Wahabi Terhadap Khilafah

    Dengan dukungan dana dan senjata dari Inggris, penguasa Saudi dan kaum Wahabi bahu membahu memerangi dan menduduki negeri-negeri Islam yang berada dalam kekuasaan Khilafah. Dengan ungkapan yang lebih tegas, sebenarnya mereka telah memberontak kepada Khalifah dan memerangi pasukan Amirul Mukminin dengan provokasi dan dukungan dari Inggris, gembongnya kafir penjajah. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).

    Penguasa Saudi dan Wahabi telah menyerang dan menduduki Kuwait tahun 1788, lalu menuju utara hingga mengepung Baghdad, menguasai Karbala dan kuburan Husein di sana untuk menghancurkan kuburan itu dan melarang orang menziarahinya. Pada tahun 1803 mereka menduduki Makkah dan tahun berikutnya (1804) berhasil menduduki Madinah dan merobohkan kubah-kubah besar yang menaungi kuburan Rasulullah SAW. Setelah menguasai Hijaz, mereka menuju ke utara (Syam) dan mendekati Hims. Mereka berhasil menguasai banyak wilayah di Siria hingga Halb (Aleppo). (Muwaffaq Bani Al-Marjih, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh, hal. 285).

    Menurut Zallum, serangan militer ini sebenarnya adalah aksi imperialis Inggris, karena sudah diketahui bahwa penguasa Saudi adalah antek-anek Inggris. Jadi, Inggris telah memanfatkan penguasa Saudi yang selanjutnya juga memanfaatkan gerakan Wahabi untuk memukul Khilafah dari dalam dan mengobarkan perang saudara antar mazhab dalam tubuh Khilafah.

    Hanya saja, seperti telah disebut di depan, para pengikut gerakan Wahabi tidak begitu menyadari kenyataan bahwa penguasa Saudi adalah antek Inggris. Mengapa? Karena menurut Zallum, hubungan yang terjadi bukanlah antara Inggris dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, melainkan antara Inggris dengan Abdul Aziz, lalu antara Inggris dengan anak Abdul Aziz, yaitu Saud bin Abdul Aziz. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).

    Mungkin karena sebab itulah, banyak para penganut gerakan Wahabi –mereka lebih senang menyebut dirinya Salafi– menolak anggapan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah memberontak kepada Khilafah Utsmaniyah. Banyak kitab telah ditulis untuk membersihkan nama Muhammad bin Abdul Wahhab dari tuduhan yang menurut mereka tidak benar itu. Contohnya kitab Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyahkarya Asy-Syuwai’ir; lalu kitab Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab min Tuhmah Al-Khuruj ‘Ala Ad-Daulah Al-Utsmaniyah karya Al-Gharib, juga kitab Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat ‘an Da’wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab karya Shalahudin Al Syaikh. Termasuk juga kitab yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yang berjudulBangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah karya Ash-Shalabi. (Pustaka Al-Kautsar, 2004).

    Bahkan dalam buku yang terakhir ini, Ash-Shalabi mencoba membangun konstruksi persepsi sejarah yang justru mengaburkan fakta sejarah yang sesungguhnya. Ash-Shalabi mengatakan bahwa perang antara Khilafah (yang diwakili oleh Muhammad Ali, yakni Wali Mesir) melawan gerakan Wahabi pertengahan abad ke-19, adalah Perang Salib yang berbaju Islam. (Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-Utsmaniyah Awamil An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, hal. 623).

    Maksudnya, Muhammad Ali dianggap representasi pihak Salib karena dia dianggap antek Inggris dan Perancis, sementara gerakan Wahabi dianggap representasi tentara Islam. Subhanallah, hadza buhtanun ‘azhim.

    Padahal, Muhammad Ali meski benar dia adalah antek Perancis menurut Zallum tapi dia memerangi Wahabi karena menjalankan perintah Khalifah, bukan menjalankan perintah kaum Salib. Jadi, perang yang terjadi sebenarnya adalah perang antara Khilafah dan kaum pemberontak yang didukung Inggris, bukan antara kaum Salib melawan pasukan Islam.

    Ada satu fakta sejarah yang diabaikan oleh para penulis sejarah apologetik itu, yang mencoba membela posisi Wahabi atau penguasa Saudi yang memberontak kepada Khilafah. Mereka nampaknya lupa bahwa wilayah Hijaz telah lama masuk ke dalam wilayah Khilafah Utsmaniyah. Sejak tahun 1517 M, Hijaz telah secara resmi menjadi bagian Khilafah pada masa Khalifah Salim I yang berkuasa 1512-1520. Peristiwa ini ditandai dengan pernyerahan kunci Makkah dan Madinah kepada penguasa Khilafah Utsmaniyah. (Abdur Rauf Sinnu, An-Naz’at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 89; Tarikh Ibnu Yusuf, hal. 16; Abdul Halim Uwais, Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, hal. 88).

    Jadi, kalau Hijaz adalah bagian Khilafah, maka upaya mendirikan kekuasaan dalam tubuh Khilafah, seperti yang dilakukan penguasa Saudi dan Wahabi, tak lain adalah upaya ilegal untuk membangun negara di dalam negara. Lalu kalau mereka berperang melawan Khalifah, apa namanya kalau bukan pemberontakan?

    Para penulis sejarah apologetik itu semestinya bersikap objektif dan adil, tidak secara apriori berpihak kepada penguasa Saudi atau gerakan Wahabi. Atau secara apriori membenci Khilafah atau aktivis pejuang Khilafah saat ini. Allah SWT berfirman (artinya) : “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS Al-Maaidah : 8).

    Namun nampaknya justru bersikap adil sepertilah yang paling sulit dilakukan oleh sejarawan, sejarawan manapun, khususnya penulis sejarah sezaman (l’histoire contemporaine, contemporary history). Dalam ilmu sejarah, menulis sejarah sezaman ini adalah paling sulit bagi ahli sejarah untuk tidak memihak (non partisan). Namun meski sulit, sejarawan seharusnya menulis secara obyektif, sekalipun menulis tentang penguasa yang sedang berkuasa. (Poeradisastra, 2008). Wallahu a’lam.

    DAFTAR BACAAN

    Aal Syaikh, Shalahudin bin Muhammad bin Abdurrahman, Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat ‘an Da’wah Al-Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, (ttp : tp), tt.

    Abu Al-As’ad, Muhammad, As-Su’udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun, (Kairo : Markaz Ad-Dirasat wa Al-Ma’lumat al-Qanuniyah li Huquq al-Insan), 1996.

    Al-Fakhiri, Tarikh Al-Fakhiri, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.

    Al-Gharib, Abdul Basith bin Yusuf, Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, (Amman : tp), tt.

    Al-Ja’bari, Hafizh Muhammad, Gerakan Kebangkitan Islam (Harakah Al-Ba’ts Al-Islami), Penerjemah Abu Ayyub Al-Anshari, (Solo : Duta Rohmah), 1996.

    Al-Marjih, Muwaffaq Bani, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh, (Kuwait : Muasasah Shaqr Al-Khalij), 1984.

    An-Nabhani, Taqiyuddin, Ad-Daulah Al-Islamiyyah, (Beirut : Darul Ummah), 2002.

    Ash-Shallabi, Ali Muhammad, Ad-Daulah al-Utsmaniyah ‘Awamil an-Nuhudh wa Asbab as-Suquth, (ttp : tp), tt.

    Asy-Syuwai’ir, Muhammad Saad, Tashih Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, (Ttp : Darul Habib), 2000.

    El-Ibrahimy, M. Nur, Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah, (Bandung : NV Almaarif), 1955.

    Ibnu Yusuf, Tarikh Ibnu Yusuf, tahqiq Uwaidhah Al-Juhni, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.

    Imam, Hammadah, Daur Al-Usrah As-Su’udiyah fi Iqamah Ad-Daulah Al-Israiliyyah, (ttp : tp), 1997.

    Muhammad, Jamal Abdul Hadi, Akhtha` Yajibu an Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz II, (Al-Manshurah : Darul Wafa`), 1995.

    Poeradisastra, S.I., Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern, (Depok : Komunitas Bambu), 2008.

    Sinnu, Abdur Rauf, An-Naz’at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah 1877-1881, (Beirut : Baisan), 1998.

    Uwais, Abdul Halim, Dirasah li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, (ttp : tp), tt.

    Yaghi, Ismail Ahmad, Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah fi At-Tarikh Al-Islami al-Hadits, (Ttp : Maktabah Al-’Abikan), 1998.

    Zallum, Abdul Qadim, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, (Beirut : Darul Ummah), 1990.

     

    http://ustazmoden.wordpress.com/

    Posted at 08:49 am by melayucyber
     

    'Krisis" agama rugikan umat - Utusan 05/11/09

    'Krisis" agama rugikan umat - Utusan 05/11/09

    'Krisis' agama rugikan umat

    MELIHAT kepada apa yang berlaku antara Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) dan bekas Mufti Negeri Perlis, Dr. Mohd. Asri Zainul Abidin, boleh disimpulkan sebagai isu yang amat membimbangkan.

    Sebabnya, polemik ini menambah sengsara umat Islam atau pun orang Melayu. Episod Melayu berpecah akibat perbezaan fahaman politik belum pun selesai, kini kita berhadapan dengan 'krisis' dalam bab agama.

    Entahlah, apa lagi yang boleh menjadi 'payung' kepada umat Islam, kalau dalam bab agama yang suci ini pun kita bercelaru.

    Dalam hal ini, yang pastinya gawat dan keliru adalah orang awam. Demikian juga golongan yang sedang 'mencari' agama melalui pengajian bukan secara formal di masjid, surau dan sebagainya.

    Apa pun isunya, kegawatan ini perlu segera diselesaikan agar umat Islam tidak keliru sehingga membawa kepada perpecahan dan menjadikan umat Islam makin lemah.

    Ingatlah firman Allah SWT: "Taatlah kamu kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, kalau tidak nescaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu, dan sabarlah menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati, sesungguhnya Allah berserta orang yang sabar." (al-Anfaal: 46).

    Pada masa yang sama, kita harus berlaku adil kepada JAIS dalam penguatkuasaan tauliah kepada penceramah agama di Selangor.

    Yang pasti, tauliah itu berniat baik. Ia bagi memastikan penceramah berlandaskan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) dan bersandarkan kepada mazhab Imam Syafie.

    Ini bertepatan dengan Mesyuarat Jemaah Menteri pada 20 Mac 1996, Sidang Majlis Keselamatan Negara pada 17 Oktober 1996 dan mesyuarat Jawatankuasa Kemajuan Hal Ehwal Islam Malaysia Ke 27 pada 24 Jun 1997. Kesemua itu memutuskan bahawa hanya akidah ASWJ menjadi pegangan umat Islam di Malaysia. Mana-mana ajaran yang bercanggah dengan fahaman dan amalan ASWJ dilarang dan disekat penyebarannya.

    ASWJ berpegang kepada empat sumber utama hukum dalam Islam iaitu al-Quran, sunnah, ijmak ulama dan qias. Pegangan tauhid di atas jalan Imam Abu Hassan al-Asyaari atau disebut fahaman al-Asya'irah.

    Walaupun mazhab utama yang diamalkan adalah mengikut Imam Syafie tetapi penggunaan mazhab lain seperti Imam Hambali, Hanafi dan Maliki turut dibenarkan dalam keadaan tertentu.

    Ini terkandung dalam Perkara 54 qaul muktamad yang diikuti dalam mengeluarkan fatwa dalam Undang-undang Negeri Selangor, Enakmen Pentadbiran Agama Islam (Selangor) 2003.

    Dalam mengeluarkan apa-apa fatwa di bawah Seksyen 48 atau memperakukan apa-apa pendapat di bawah Seksyen 53, Jawatankuasa Fatwa hendaklah pada lazimnya mengikut qaul muktamad Mazhab Shafie.

    Bagaimanapun, jika berpendapat dengan mengikut qaul muktamad Mazhab Syafie suatu keadaan yang berlawanan dengan kepentingan awam akan terhasil, Jawatankuasa Fatwa boleh mengikut qaul muktamad Mazhab Hanafi, Maliki atau Hanbali.

    Perkara berkaitan tauliah ini pula adalah di bawah perkenan Duli Yang Mulia Sultan sebagai Ketua Agama atau ulil amri negeri masing-masing. Dengan kata lain, mematuhi arahan tersebut juga bermakna kita mematuhi arahan pemerintah.

    Dalam aspek yang lain, kita juga tidak mahu tradisi menuntut ilmu agama secara informal ini terbantut akibat 'krisis' yang berlaku ini.

    Semenangnya, pengajian agama di Malaysia terutama di bandar-bandar utama seperti Kuala Lumpur kini semakin mendapat perhatian umat Islam.

    Kuliah-kuliah sama ada pada waktu zuhur, maghrib, duha dan subuh Ahad sentiasa dipenuhi oleh para jemaah yang dahagakan ilmu.

    Di sinilah pentingnya penceramah yang bertauliah supaya ilmu yang disampaikan itu bertepatan dan tidak bercanggah dengan ASWJ dan mazhab Syafie yang dominan di negara kita.

    Kebimbangan paling besar adalah jika berlaku penyelewengan akidah terutama di kalangan mereka yang bergelar 'ustaz dan ustazah'. Sebabnya, penyelewengan oleh golongan 'agama' lebih buruk kesannya terhadap akidah dan amalan masyarakat berbanding kerosakan yang berlaku jika ia disampaikan oleh golongan bukan agamawan.

    Pada masa yang sama, sebahagian besar jemaah yang mengikuti kuliah di masjid dan surau adalah orang awam. Justeru adalah penting memastikan kuliah tersebut mematuhi ASWJ terutama dalam membicarakan hal berkaitan ilmu tauhid.

    Sehubungan itu, ada baiknya diadakan muzakarah atau seminar bagi menjelaskan kepada masyarakat awam di negara kita apakah itu fahaman ASWJ dan bentuk fahaman lain yang perlu ditolak.

    Jangan dibiarkan masyarakat awam terus tertanya-tanya dan keliru apakah ajaran Islam sebenarnya yang perlu mereka ikuti.

    Negara mempunyai ramai ulama dan cendekiawan Islam yang mampu merungkaikan permasalahan ini supaya isu ini tidak lagi menjadi barah dalam masyarakat.

    Kita tidak mahu hanya gah pada bilangan atau kuantiti umat Islam sahaja tetapi tidak ada kualiti. Lihatlah apa yang berlaku kepada umat Islam di Palestin yang diganyang oleh zionis tetapi kita hanya mampu 'memandang'.

    Jumlah umat Islam yang berbilion di seluruh dunia tidak cukup menggerunkan musuh-musuh Islam. Inilah yang digambarkan melalui hadis Nabi SAW: "Hampir tiba masanya kamu akan diserbu oleh bangsa-bangsa lain, sebagaimana orang-orang lapar mengadap hidangan di dalam jamuan". Sahabat bertanya, "apakah semua itu berlaku disebabkan oleh jumlah kami yang sedikit?"

    Rasulullah SAW menjawab: "Bahkan ketika itu jumlah kamu amat ramai, tetapi ramainya kamu tidak lebih dari seumpama buih di permukaan banjir. Allah akan mencabut dari hati musuh-musuh kamu rasa gerun mereka terhadap dirimu, dan dimasukkan ke hatimu penyakit al-wahan". Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apakah al-wahan itu?" Jawab Rasulullah SAW: "Al-wahan ialah cinta dunia dan takut menghadapi maut." (riwayat Abu Daud daripada Sauban).

    PENULIS ialah Pengarang Agama Utusan Malaysia.

    http://pondokhabib.wordpress.com

     

    Posted at 08:19 am by melayucyber
     

    Thursday, November 05, 2009
    Pengajian Kitab :Sairus Salikin @ MAF USJ 9

    Pengajian Kitab :Sairus Salikin @ MAF USJ 9

    SHEIKH AHMAD FAHMI ZAMZAM AL-MALIKI


    Kitab  Sairus Salikin 1
    karangan SYAIKH ABDUS_SHAMAD AL FALIMBANI
    Bertempat Dewan Solat MAF USJ 9
    Tarikh Ahad , 15 Nov 2009 (27 Dh-Qa’ida 1430)
    JAM 9.00 PAGI – 12.30 TGHR

    Ahad , 13 Dec 2009 (26 Dh-Hijja 1430)
    JAM 9.00 PAGI – 12.30 TGHR

    Ahad , 27 Dec 2009 (10 Muharram 1431)
    JAM 9.00 PAGI – 12.30 TGHR
     
    http://pondokhabib.wordpress.com

     

    Posted at 08:31 am by melayucyber
     

    Monday, November 02, 2009
    Kewajipan mencintai keluarga Nabi SAW

    Kewajipan mencintai keluarga Nabi SAW


    PERARAKAN sempena Maulidur Rasul adalah antara cara memupuk kecintaan terhadap Rasulullah SAW.


    RATA-RATANYA masyarakat Islam keliru mengenai apakah pegangan sebenar Ahli Sunnah Wal Jamaah terhadap ahli keluarga Nabi SAW. Kekeliruan ini membuatkan ramai di kalangan kita tidak mahu menyentuh permasalahan mengenai hak-hak Ahli Bait barangkali kerana khuatir terlibat dengan fahaman puak Syiah dan Rafidhah.

    Sebahagian yang lain menganggap ia bukanlah suatu permasalahan yang penting untuk diambil berat dan diperbahaskan dengan panjang lebar.

    Walau apa pun alasannya, perbuatan dan perkataan salafussoleh serta ulama telah bersalahan dengan pendirian mereka. Pendapat salaf juga menjadi bukti dan hujah bahawa mereka tidak pernah meletakkan perbahasan mengasihi Ahli Bait sebagai perkara sampingan dan hal remeh-temeh.

    Sebabnya, mereka sedar dengan sebenar-benar kesedaran bahawa mencintai dan memuliakan ahli keluarga Nabi SAW adalah perintah yang wajib dijunjung walau di mana mereka berada.

    Secara umumnya perintah memulia dan mencintai ahli keluarga Nabi SAW termaktub di dalam firman Allah SWT yang bermaksud: Katakanlah (Wahai Nabi Muhammad): Bahawa aku tidak meminta sebarang upah di atas seruan dakwahku ini melainkan agar kalian mencurahkan rasa kasih sayang terhadap al-Qurba (kaum kerabat Rasulullah SAW). (as-Syuura: 23)

    Demikian juga diriwayatkan dalam banyak hadis mengenai tuntutan mencintai dan memuliakan Ahli Bait seperti sabda Nabi SAW yang bermaksud: Aku ingatkan kamu kepada Allah (agar mencintai dan memuliakan) ahli keluargaku. (riwayat Muslim, Tarmizi, al-Nasa'i, Ahmad dan al-Hakim).

    Di dalam hadis yang lain pula Baginda SAW bersabda, maksudnya: "Sesungguhnya aku tinggalkan buat kalian dua bekalan iaitu Kitabullah dan keturunanku Ahli Bait. Sesungguhnya Allah Yang Maha Pelembut dan Maha Mengetahui telah memberitahuku bahawa kedua-duanya tidak akan berselisih sehinggakan kedua-duanya masuk ke syurga, maka lihatlah bagaimana kalian melanjutkan kepimpinanku terhadap dua perkara ini". (Dikeluarkan oleh al-Haytami dalam Majma' al Zawaid)

    Daripada dalil-dalil di atas, nyatalah kepada kita bahawa mencintai dan memuliakan Ahli Bait adalah merupakan perintah yang terbit dari pelita al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.

    Salafussoleh dan Ahli Bait

    Para salafussoleh r.a tidak membiarkan firman Allah SWT dan hadis-hadis yang terlalu banyak menekankan peri pentingnya mencintai dan memuliakan Ahli Bait sebagai kalam yang sia-sia. Mereka telah mempraktikkan semua ini sepanjang kehidupan mereka dan menyemai rasa kasih dan penghormatan terhadap Ahli Bait ke dalam hati anak-anak mereka sejak kecil lagi.

    Saidina Abu Bakar al Siddiq r.a pernah berkata: "Demi jiwaku yang berada di dalam kekuasaan-Nya, aku lebih suka menyambungkan silaturrahim dengan kerabat Rasulullah SAW daripada kerabatku. (riwayat al-Bukhari dan Muslim)

    Saidina Umar ibn al-Khattab r.a pula pernah menyatakan kepada Saidina Abbas r.a dengan katanya: "Demi Allah! Keislaman kamu pada hari kamu memeluk Islam lebih aku sukai daripada pengislaman al-Khattab (iaitu bapanya), kerana keIslaman kamu lebih dikasihi oleh Rasulullah SAW daripada pengislaman al-Khattab". (riwayat Ibnu Saad di dalam al-Tobaqat).

    Demikian juga perbuatan Saidina Zaid ibn Thabit r.a yang mencium tangan Ibnu Abbas r.a lalu berkata: "Beginilah kami diperintahkan agar menghormati ahli keluarga Nabi kami".

    Seorang cucu Rasulullah SAW yang bernama Abdullah ibn Hasan ibn Hasan berkata: "Aku telah datang menemui Umar ibn Abdul Aziz dengan membawa hajatku. Maka dia berkata kepadaku: Sekiranya kamu mempunyai sebarang hajat, maka utuskanlah seorang utusan kepadaku dan tulislah hajatmu itu kerana aku malu kepada Allah tatkala melihatmu berada di depan pintu rumahku".

    Kecintaan Imam Mazhab Terhadap Ahli Bait

    Imam-imam mazhab fiqh yang muktabar juga sentiasa meletakkan kedudukan Ahli Bait di tempat yang selayaknya seperti yang telah diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya.

    Mereka hidup bergaul dengan zuriat Baginda SAW yang mendiami kota Madinah, Mekah dan bumi Syam dengan pergaulan yang baik, penghormatan dan kasih sayang demi meraih keredaan nenda mereka, Rasulullah SAW.

    Imam Abu Hanifah r.a adalah di antara imam-imam Ahli Sunnah yang begitu mengasihi ahli keluarga Nabi SAW. Beliau telah berfatwa agar umat Islam memberikan wala' (kesetiaan), melazimi dan mentaati Saidina Ibrahim ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn al-Hasan al-Muthanna ibn Ali r.a. Fatwanya ini menyebabkan beliau dipenjara tetapi diuar-uarkan bahawa beliau dihukum penjara kerana menolak jawatan kadi yang ditawarkan kepadanya.

    Imam Malik ibn Anas r.a juga telah memuliakan dan berfatwa agar umat Islam memberi ketaatan kepada Saidina Ibrahim ibn Zaid ibn Ali Zain al-Abidin ibn al-Husain ibn Ali r.a. Lantaran daripada itu, beliau dipenjarakan selama beberapa tahun.

    Imam Muhammad ibn Idris al-Syafie pula adalah di kalangan imam yang paling tebal kecintaannya terhadap ahli keluarga Nabi SAW. Beliau menegaskan di dalam serangkap syairnya yang bermaksud: "Sekiranya mencintai ahli keluarga Nabi SAW menjadikan seseorang itu digelar Rafidhah, maka saksikanlah wahai manusia dan jin bahawa aku adalah Rafidhah".

    Di dalam sebuah syairnya yang lain beliau menyatakan: "Wahai Ahli Bait Rasulullah! Cinta terhadap kalian adalah satu kewajipan di dalam al-Quran yang diturunkan Allah, Cukuplah bukti betapa tingginya kedudukan kalian, sesiapa yang tidak bersalawat ke atas kalian di dalam solat, maka tidak sempurnalah solatnya".

    Diriwayatkan oleh muridnya bernama al-Rabi' bahawa: Ketika kami pergi mengerjakan haji bersama Imam Syafie r.a, kami melihat beliau tidak akan mendaki suatu tempat yang tinggi atau turun ke kawasan lembah, melainkan beliau akan menangis dan mendendangkan syairnya yang bermaksud: "Ahli keluarga Nabi adalah perisaiku dan mereka adalah wasilahku kepada Allah, aku berharap kelak dengan keberkatan mereka, agar diserahkan sahifah (catatan amalan) di tangan kananku".

    Mencintai Ahli Bait di sisi Ahli Sunnah Wal Jamaah

    Sesungguhnya Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah kelompok umat Islam yang paling benar dan tepat dalam mempersembahkan kasihnya terhadap ahli keluarga Nabi SAW.

    Kecintaan mereka pada hakikatnya berbeza dengan pegangan kaum Syiah yang bersifat melampau dalam mengagungkan Ahli Bait. Kecintaan mereka yang berpaksikan kepada al-Quran dan Sunnah ini merumuskan kepada kita kepada beberapa perkara:

    lAhli Sunnah mewajibkan pengikutnya mencintai dan memuliakan semua Ahli Bait dan sahabat-sahabat Baginda SAW kerana tanda kasih yang tulus terhadap Nabi SAW ialah dengan mengasihi dan memuliakan Ahli Bait dan para sahabat baginda.

    lAhli Sunnah berlepas diri (tiada kena mengena) dengan jalan orang yang melakukan pelampauan ke atas keluarga Nabi SAW seperti mana amalan kaum Rafidhah yang tercela.

    lAhli Sunnah memuliakan isteri-isteri Nabi SAW serta mendoakan agar Allah SWT meredai mereka setiap kali disebut nama-nama mereka. Pemilihan mereka sebagai isteri adalah dari perbuatan Nabi SAW yang maksum. Sekiranya kita mencerca mereka seperti amalan kaum Syiah, secara tidak langsung kita mempertikaikan kemaksuman Rasulullah SAW.

    lAhli Sunnah menyifatkan Ahli Bait sebagaimana yang disyariatkan dan digariskan oleh al- Quran dan Sunnah, bukan mengasihi mereka untuk menjayakan syiar dan muslihat politik seperti mana amalan kaum Syiah.

    lAhli Sunnah tidak mengiktikadkan bahawa Ahli Bait adalah maksum, bahkan mereka juga manusia biasa yang tidak terlepas dari melakukan dosa sebagaimana manusia yang lain.

    lAhli Sunnah beriktikad bahawa perkataan dan pendapat yang menyebut tentang kelebihan atau kemuliaan Ahli Bait tidaklah bermaksud melebihkan mereka pada setiap keadaan atau setiap orang. Bahkan dari beberapa sudut yang lain terdapat individu-individu lain yang lebih afdal daripada mereka.

    Demikian juga terdapat banyak kitab karangan ulama fiqh, hadis dan tafsir mengenai gesaan mencintai dan memuliakan ahli keluarga Nabi SAW. Di antara mereka ialah al-Hafiz Jalaluddin al-Suyuti r.a.

    Beliau telah menulis sebuah risalah bertajuk Ihya' al-Mayyit Bi Fadhail Aalil Bait yang menghimpunkan 60 buah hadis yang membicarakan tentang tuntutan mengasihi, keutamaan dan kelebihan ahli keluarga Nabi SAW.

    Posted at 08:53 am by melayucyber
     

    Wednesday, October 28, 2009
    Ceramah dan Ratib al Attas

    Ceramah dan Ratib al Attas

    Time: October 31, 2009 from 7pm to 10pm
    Location: Masjid UKM
    Street: Jalan Utama
    City/Town: Bangi, Selangor Darul Ehsan
    Organized By: AJK Masjid UKM & Persatuan Keluarga Jamalullail Perak Malaysia

    Event Description

    Assalamualaikum,
    Tuan/Puan adalah dijemput menghadiri Majlis Ceramah dan mengenal Ratib Al-Attas yang akan disampaikan oleh Penceramah Jemputan Habib Hassan bin Muhammad bin Salem Al-Attas (Imam Besar Masjid Ba'alawee S'pore)

    http://assadah.ning.com

    Posted at 01:51 pm by melayucyber
     

    Tanya Jawab Akidah Ahlussunnah wal Jamaah

    Tanya Jawab Akidah Ahlussunnah wal Jamaah PDF Print E-mail
    Thursday, 08 October 2009 11:05
     
    Buku yang berjudul asli Al-Ajwibah Al-Ghaliyah fi ‘Aqidah Al-Firqah An-Najiyah ini berisi jawaban atas amaliyah golongan Ahlusunnah wal Jama’ah yang selama ini dianggap oleh sebagian kelompok kecil umat Islam sebagai amalan yang menyimpang, meski amaliyah tersebut telah dilakukan oleh generasi Islam terdahulu, yaitu para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan terus hingga masa kita sekarang ini. Setiap jawaban disertai dalil Al-Quran, sunnah, atsar sahabat, dan pendapat para imam ahli ijtihad.

    Teknik penulisan tanya jawab menjadikan pembaca mudah menelusuri setiap permasalahan yang dikemukakan. Misalnya, mengenai kemungkinan melihat Rasulullah dalam keadaan sadar.
     
    Sang penulis, yang dikenal dengan sapaan Habib Zain bin Smith, menjawab bahwa melihat Rasulullah dalam keadaan sadar itu mungkin dan dapat terjadi. Ada banyak ulama menjelaskan, banyak ahli ma’rifat melihat Rasulullah SAW dalam keadaan tidur (mimpi), kemudian mereka melihatnya dalam keadaan sadar dan terjaga, dan mereka dapat bertanya kepadanya hal-hal yang maslahat untuk mereka.
     
    Dalilnya, “Sesungguhnya Nabi SAW bersabda, ‘Barang siapa melihatku dalam mimpi, ia akan melihatku dalam keadaan sadar, dan setan tidak dapat menjelma dengan rupaku’.” (HR Bukhari dan Muslim).
     
    Menurut ulama Sunni yang kini tinggal di Madinah ini, para ulama menafsirkan, hadits ini adalah berita yang menyenangkan buat umatnya yang melihat Nabi dalam mimpi, ia akan melihatnya pada saat terjaga, sekalipun sekejap, menjelang meninggal dunia. Hadits ini tidak dapat ditafsirkan melihat Rasululah SAW di akhirat atau di barzakh, karena waktu itu semua umat pasti melihatnya.

    Penulis: Al-Habib Zainal Abidin bin Ibrahin bin Smith Al-Alawi Al-Husaini
    Penerbit: Khalista, Surabaya, dan Lajnah Ta’lif wan Nasyr NU Jawa Timur
    Harga: Rp. 23.000,-
     
     

    Posted at 10:25 am by melayucyber
     

    Tuesday, October 27, 2009
    Haul Imam al-Haddad di Kuching

    Haul Imam al-Haddad di Kuching

    Insya-Allah, pada 31 Oktober 2009 ini (hari Sabtu malam Ahad) akan diadakan peringatan Haul Imam Habib Abdullah bin Alawi bin Muhammad al-Haddad asy-Syafi`i al-Hadhrami di Masjid Wan Alwi, Tabuan Jaya. Di antara yang dijangka hadir adalah Habib Muhsin bin Hamid al-Haddad, naib munshib keluarga besar al-Haddad dari Hadhramaut. Semua dijemput hadir

    http://pondokhabib.wordpress.com

     

    Posted at 09:15 am by melayucyber
     

    Monday, October 26, 2009
    JADUAL MAJLIS BACAAN RATIB AL HADDAD, AL ATTAS & ASMAUL HUSNA(KUALA LUMPUR)

    JADUAL MAJLIS BACAAN RATIB AL HADDAD, AL ATTAS & ASMAUL HUSNA(KUALA LUMPUR)
    TARIKH ACARA  TEMPAT PIMPINAN
    Khamis mlm Jumaat Minggu ke2 Ratib Al Attas & Asmaul Husna Masjid At Taqwa, Taman Tun Habib Hussein Al Attas
    Jumaat mlm Sabtu Minggu ke 2 Ratib Al Attas & Asmaul Husna Masjid Al Mukarramah, Bandar Sri Damansara Habib Hussein Al Attas
    19/11/2009 Ratib Al Attas & Asmaul Husna Surau Al Syakirin Habib Ali Al Sagoff
    Minggu ke 2 & ke 4 Ratib Al Attas Masjid Al Bukhary Habib Ali Al Sagoff
    Setiap Selasa Ratib Al Haddad Masjid Baitulaman  

    http://pondokhabib.wordpress.com

     

    Posted at 09:37 am by melayucyber
     

    Tuesday, October 20, 2009
    Majlis Ceramah – Tariqah Alawiyyah

    <DIV class=snap_preview>
    <P>Majlis Ceramah – Tariqah Alawiyyah<BR>Dijemput ke majlis ceramah (tariqah alawiyyah) oleh Habib Hassan alattas (nazir masjid baalawi) dan Prof Farid alattas (universiti singapore) pada:</P>
    <P>Tarikh : Ahad, 1 November 2009<BR>Masa: 3 petang<BR>Tempat: Wisma Sejarah (Depan IJN), Jln Tun Razak, KL.</P>
    <P>Anjuran – Institut Salasilah Sadah </P>
    <P>http://forum.asyraaf.net</P></DIV>

    Posted at 05:20 pm by melayucyber
     

    Majlis Ceramah Tariqah Alawiyah

    <DIV class=snap_preview>
    <P>Majlis Ceramah – Tariqah Alawiyyah<BR>Dijemput ke majlis ceramah (tariqah alawiyyah) oleh Habib Hassan alattas (nazir masjid baalawi) dan Prof Farid alattas (universiti singapore) pada:</P>
    <P>Tarikh : Ahad, 1 November 2009<BR>Masa: 3 petang<BR>Tempat: Wisma Sejarah (Depan IJN), Jln Tun Razak, KL.</P>
    <P>Anjuran – Institut Salasilah Sadah </P>
    <P>http://forum.asyraaf.net</P></DIV>

    Posted at 05:19 pm by melayucyber
     

    Next Page